Penyakit Hepatitis C

Penyakit Hepatitis C adalah penyakit hati yang dapat menginfeksi manusia umunnya dan ditularkan melaui darah. Untuk mengetahui seseorang mengidap hepatitis C dilakukan pemeriksaan anti-HCV dan deteksi protein virus RNA HCV. Infeksi dengan virus hepatitis C (VHC) dapat asimptomatik yaitu tanpa gejala hepatitis atau dapat berupa hepatitis akut, kronik, sirosis bahkan menjadi kanker hati. dengan adanya pemeriksaan anti HCV dalam donor darah menyebabkan angka kejadian infeksi hepatitis C berkurang.

Penyakit Hepatitis C

Penyakit Hepatitis C

Penyakit Hepatitis C

Transmisi dari penyakit ini melalui darah yang ditularkan lewat kulit atau selaput lendiran yang terluka. Cara penularan melalui kulit dapat disebabkan oleh karena tusukan jarum, hemodialisis, transfusi darah yang tidak aman, akupuntur dan tatto. Sedangkan penularan melalui selaput lendir disebabkan oleh karena hubungan seksual, infeksi perinatal dari ibu ke bayi, penggunaan pisau cukur dan sikat gigi bersamaan. Infeksi dengan VHC mempunyai risiko tinggi pada penggunaan narkoba-suntik dan juga pegawai yang berhubungan dengan darah yang terpapar VHC seperti dokter, analis serta perawat.

Masa inkubasi penyakit hepatitis C adalah 2-6 minggu dimana 60-70% tanpa gejala, 10-20% menunjukkan gejala yang tidak spesifik seperti mual, muntah, lemah, tidak nafsu makan, nyeri pada perut dan 20-30% disertai warna kuning pada kulit (iketus). Kemungkinan ynag dapat terjadi setelah terinfeksi VHC adalah sebagai berikut :

– 60-85% pasien terinfeksi hepatitis C menjadi hepatitis kronik
– 10-20% dari hepatitis kronik akan menjadi sirosis
– 1 dari 5% dengan hepatitis kronik akan menjadi kanker hati

Angka kematian di Amerika Serikat mencapai 10.000-12.000 orang/tahun yang disebabkan oleh penyakit hepatitis kronik. Virus hepatitis C mengadung RNA rantai tunggal yang dilapisi oleh glikprotein. Genome VHC terdiri dari 9400 nukleotida yang mengkode polprotein dengan 3000 asam amino. poliprotein tersebut terdiri dari sepertiga bagian protein struktural yaitu protein core, glycosylated envelope proteins (E1 dan E2) dan 2/3 bagian protein non struktural yaitu NS 2, NS 3, NS 4a, Ns 4b, NS 5a dan NS 5b.

Terjadinya penularan penyakit hepatitis C biasanya lewat kontak langsung dari darah atau juga dari penggunaan jenis produk seperti jarum suntik dan alat tajam yang lain yang sudah mengalami kontaminasi dengan penyakit hepatitis C. Dalam suatu kegiatan yang dilakukan sehari-hari, akan banyak resiko untuk mengalami infeksi penyakit hepatitis C misalnya adalah akibat luka berdarah tergores atau juga mengalami mimisan dan darah menstruasi. Penggunaan dari produk pribadi yang terkena kontak dengan penderita infeksi penyakit hepatitis C yang akan menularkan penyakit hepatitis C, misalnya adalah penggunaan sikat gigi, alat cukur dan juga penggunaan alat manicure. Selain itu, resiko untuk mengalami infeksi penyakit hepatitis C biasanya akan menjadi lebih tinggi untuk mereka yang melakukan hubungan seksual dan untuk mereka yang mempunyai pasangan seksual yang banyak.

Selain itu, penularan dari penderita penyakit hepatitis C yang jarang terjadi namun kemungkinan resiko untuk mengalami penyakit hepatitis C adalah dari ibu yang terinfeksi penyakit hepatitis C pada bayi yang baru saja lahir atau juga dari anggota keluarga yang lainnya. Dan walaupun demikian, jika si ibu menderita penyakit HIV yang positif, maka resiko untuk menularkan penyakit hepatitis C juga akan semakin tinggi. Namun untuk ibu yang menyusui, hal ini tidak terjadi.

Pada diagnosis yang ditegakkan untuk penderita penyakit hepatitis C biasanya beberapa orang yang mengalami infeksi penyakit hepatitis C akan mempunyai tingkatan enzim hati (ALT/SGPT) yang sangat tinggi. Jika Anda mempunyai resiko mengalami penyakit hepatitis C, maka Anda harus melakukan tes HCV, walaupun tingkatan dari enzim yang ada di dalam hati masih dalam keadaan yang normal. Tes HCV ini dilakukan untuk semua Odha, karena infeksi yang terjadi dengan bersamaan adalah suatu hal yang umum terjadi.

Umumnya, tes darah yang dilakukan pertama kali pada penyakit HCV adalah dengan melakukan tes antibodi. Hasil dari positif yang berarti kita pernah mengalami infeksi HCV. Namun penyakit hepatitis C untuk beberapa orang yang bisa sembuh tanpa melakukan pengobatan, jadi kita akan membutuhkan tes viral load HCV untuk membantu mengetahui aoakah kita mengalami infeksi kronis. Tes viral load pada penyakit hepatitis C yang diusulkan dan jika hasil tes antibodi bersifat reaktif, kita juga kemungkinan akan mengalami resiko penyakit hepatitis C atau juga bahkan mengalami gejala hepatitis C.

Tes yang dilakukan pada pemeriksaan penyakit hepatitis C adalah tes antibodi dan viral load HIV. Viral load HCV yang umumnya jaug lebih tinggi dibandingkan dengan viral load HIV dan seing kali jumlahnya jutaan. Berbeda dengan penyakit HIV, viral load pada penyakit hepatitis C biasanya tidak akan meramalkan atau menentukan suatu kelanjutan penyakit. Viral load yang dilakukan pada penyakit hepatitis C atau juga suatu hasil dari tingkat enzim hati yang tidak menunjukkan tingkat dari terjadknya suatu kerusakan di dalam hati. Biopsi pada hati adalah salah satu cara yang paling baik dalam memastikan kondisi hati. Dan jika hanya ada suatu kerusakan yang terjadi pada hati, dan beberapa pakar biasanya akan menyusulkan untuk pemantauan hati, jika ada suatu parutan atau penyakit sirosis hati, maka pengobatan dari penyakit HCV kemunginan juga akan dibutuhkan.

Penyakit Hepatitis C


=====================================

>>> Obat Hepatitis Untuk Membantu Mengobati dan Menyembuhkan Hepatitis A, Hepatitis B, Hepatitis C dan Pencegahan Hepatitis dan juga Menyehatkan Fungsi Hati, Klik Detail Disini!
=====================================


This entry was posted in Penyakit Hepatitis C and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Comments are closed.